565 "Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa (manusia) yang melahirkan tindakan-tindakan mudah dan gampang tanpa memerlukan pemikiran atau pun pertimbangan", begitu kata Imam Al-Ghazali. Lebih lanjut Al-Ghazali mengungkapkan bahwa tidak ada pemisahan berarti antara akhlak dan tasawuf. Hal itu lantaran tasawuf adalah budi pekerti, dan
Thisjournal contains many subdisciplines of Islamic studies, including Islamic education, Shari'ah, Islamic thought, and Islamic economics. Maraji` Journal of Islamic Studies is published twice a year in March and September. Subjects: Islamic Studies. Accreditation: Not accredited.
Tasawufdalam pandangan mereka meruÂpakan latihan jiwa dan usaha mencegah tabiat dari akhlak-akhlak yang hina lalu membawanya ke akhlak yang baik, hingga mendatangkan pujian di dunia dan pahala di akhirat. Sementara itu, tasawuf- juga dengan metodenya yang tipikal -berusaha menghampiri kebenaran yang berkaitan dengan perjalanan spiritual
Tasawufadalah proses pendekatan diri kepada Tuhan (Allah) dengan cara mensucikan hati. Hati yang suci bukan hanya bisa dekat dengan Tuhan malah dapat melihat Tuhan (al-Ma'rifah). Dalam tasawuf disebutkan bahwa Tuhan Yang Maha Suci tidak dapat didekati kecuali oleh hati yang suci. Kalau ilmu akhlak menjelaskan mana nilai yang baik dan mana yang
1412 MAKALAH : Gagal beragama. Di negeri kita ada yang tekun beragama, tetapi juga tekun korupsi. Bahkan ada koruptor yang ditangkap sepulang dari menunaikan ibadah haji atau umrah. Bahkan kementeria n agama diperbinca ngkan orang banyak karena soal korupsi. Semua itu disebabkan mereka hanya terlihat beragama namun gagal beragama.
Nulisartikel sekalian belajar. Ya, artikel ini saya buat karena sebentar lagi saya akan UAS. Daripada hanya bermain blog, mending sekalian belajar. Sengaja judulnya itu, karena memang dalam isi artikel ini adalah rangkuman saya selama semester 1 dengan mata kuliah akhlak tasawuf, yang secara ringkas membahas tentang Pengertian Akhlak, Etika, Moral, Perbedaan dan persamaannya, kapan masuknya
Tasawufakhlaki adalah tasawuf yang berorientasi pada perbaikan ahklak, mencari hakikat kebenaran dan mewujudkan manusia yang dapat makrifat kepada Allah, dengan metode-metode tertentu yang telah dirumuskan. Tasauf akhlaki biasa juga disebut dengan tasawuf sunni. Tasawuf model ini berusaha untuk mewujudkan akhlak mulia dalam diri si sufi, sekaligus menghindarkan diri dari akhlak mazmumah
Objekdari pendidikan akhlak adalah manusia. Amin Syukur dalam bukunya Tasawuf Sosial menyebutkan bahwa manusia adalah hamba Allah SWT. yang mempunyai dua sistem kehidupan. Yaitu kehidupan jasmani dan rohani. Jika sistem rohani sakit maka jasmanipun akan mengalami sakit. demikian juga sebaliknya, jika jasmani sakit, maka rohanipun ikut sakit.
Sebagaimanadiketahui bahwa dalam tasawuf masalah ibadah sangat meninjol, karna bertasawuf itu pada hakikat nya melakukan serngkaian ibadah seperti shalat, puasa, zakat dll, yang semuanya itu uantuk mendekatka diri kepada Allah . ibadah yang dilakukan dalam rangka bertasawuf itu ternyata erat hubungannya dengan akhlak.
A PENGERTIAN TASAWUF AKHLAKI, IRFANI DAN FALSAFI. 1. Tasawuf Akhlaki. Kata "Tasawuf " dalam bahasa arab berarti membersihkan atau saling membersihan. Kemudian "akhlak" juga berasal dari bahasa arab yang artinya perbuatan atau penciptaan. Konsep ajaran akhlak menurut Islam adalah menuju perbuatan amal shaleh.
3UPqs. Memahami Perbedaan Akhlak, Etika, dan MoralETIKA, MORAL, DAN AKHLAK DALAM ISLAMPersamaan dan Perbedaan Akhlak, Etika, Moral, Dan SusilaPERBEDAAN AKHLAK, MORAL DAN ETIKAETIKA, MORAL DAN AKHLAK DALAM ISLAMMemahami Perbedaan Akhlak, Etika, dan MoralAntara Etika, Moral dan Akhlak Mana yang Lebih Utama dalam Islam Sebagaimana diterangkan dalam buku âAkhlak Tasawufâ yang disusun oleh Prof. Dr. Rosihon Anwar, M. Ag. Pertama bahwasanya ketiganya mengacu pada gambaran tentang perbuatan, tingkah laku, dan perangai yang baik. Kedua, merupakan prinsip atau aturan hidup manusia untuk mengukur martabat dan harkat kemanusiaannya. Psikologi membicarakan tentang perasaan, sifat, kehendak, pemahaman, khayal, kemerdekaan, yang keseluruhan dibutuhkan oleh ilmu akhlak. Sebagaimana diterangkan dalam buku âAkhlak Tasawufâ yang disusun oleh Prof. Dr. Rosihon Anwar, M. Ag. Pertama bahwasanya ketiganya mengacu pada gambaran tentang perbuatan, tingkah laku, dan perangai yang baik. Kedua, merupakan prinsip atau aturan hidup manusia untuk mengukur martabat dan harkat kemanusiaannya. Psikologi membicarakan tentang perasaan, sifat, kehendak, pemahaman, khayal, kemerdekaan, yang keseluruhan dibutuhkan oleh ilmu akhlak. ETIKA, MORAL, DAN AKHLAK DALAM ISLAM Terutama pada saat ini banyak orang beranggapan bahwa harta adalah prioritas utama Apabila sudah terpedaya pada hal-hal yang negatif, akhlak remaja mudah rusak sehingga menimbulkan berbagai masalah. Padahal pemuda adalah generasi penerus bangsa, namun pada kenyatanya sebagian besar remaja pada saat ini sudah terjerumus dalam hal negatif, seperti seks bebas, narkoba, dan lain-lain. Etika adalah sebuah tatanan perilaku berdasarkan suatu sistem tata nilai suatu masyarakat tertentu, Etika lebih banyak dikaitkan dengan ilmu atau filsafat, karena itu yang menjadi standar baik dan buruk itu adalah akal manusia. Moral selalu dikaitkan dengan ajaran baik buruk yang diterima umum atau masyarakat. Karena itu adat istiadat masyarakat menjadi standar dalam menentukan baik dan buruknya suatu perbuatan. Dan dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata akhlak di artikan sebagai budi pekerti atau kelakuan. Inilah yang menjadi misi diutusnya Rasul sebagaimana disabdakannya â Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.âHadits riwayat Ahmad. Apabila aqidah telah mendorong pelaksanaan syariâat akan lahir akhlak yang baik, atau dengan kata lain akhlak merupakan perilaku yang tampak apabila syariâat Islam telah dilaksanakan berdasarkan aqidah. 1 Sabar, yaitu prilaku seseorang terhadap dirinya sendiri sebagai hasil dari pengendalian nafsu dan penerimaan terhadap apa yang diungkapkan ketika melaksanakan perintah, menjauhi larangan dan ketika ditimpa musibah. 2 Syukur, yaitu sikap berterima kasih atas pemberian nikmat Allah yang tidak bisa terhitung banyaknya. 3 Tawaduk, yaitu rendah hati, selalu menghargai siapa saja yang dihadapinya, orang tua, muda, kaya atau miskin. Berbuat baik kepada ibu bapak dibuktikan dalam bentuk-bentuk perbuatan antara lain menyayangi dan mencintai ibu bapak sebagai bentuk terima kasih dengan cara bertutur kata sopan dan lemah lembut, mentaati perintah, meringankan beban, serta menyantuni mereka jika sudah tua dan tidak mampu lagi berusaha. Melalui komunikasi seperti itu pula dilakukan pendidikan dalam keluarga, yaitu menanamkan nilai-nilai moral kepada anak-anak sebagai landasan bagi pendidikan yang akan mereka terima pada masa-masa selanjutnya. Persamaan dan Perbedaan Akhlak, Etika, Moral, Dan Susila Dalam perspektif agama, perbuatan manusia didunia ini hanya ada dua pilihan yaitu baik dan benar. Ditinjau dari aspek pembentukan karakter, keempat istilah itu merupakan suatu proses yang tidak pernah ada kata berhenti di dalamnya. Sebaliknya, jika tidak mampu, maka ia akan jatuh ke posisi drajad binatang dan bahkan lebih sesat lagi. Berdasarkan paparan di atas, maka secara formal perbedaan keempat istilah tersebut adalah antara lain sebagai berikut PERBEDAAN AKHLAK, MORAL DAN ETIKA Gurusiana adalah paltform blogging yang dikhususkan untuk kalangan Guru, Dosen ataupun Pengajar Non Gelar Lainnya. ETIKA, MORAL DAN AKHLAK DALAM ISLAM Terutama pada saat ini banyak orang beranggapan bahwa harta adalah prioritas utama Apabila sudah terpedaya pada hal-hal yang negatif, akhlak remaja mudah rusak sehingga menimbulkan berbagai masalah. Padahal pemuda adalah generasi penerus bangsa, namun pada kenyatanya sebagian besar remaja pada saat ini sudah terjerumus dalam hal negatif, seperti seks bebas, narkoba, dan lain-lain. Etika adalah sebuah tatanan perilaku berdasarkan suatu sistem tata nilai suatu masyarakat tertentu, Etika lebih banyak dikaitkan dengan ilmu atau filsafat, karena itu yang menjadi standar baik dan buruk itu adalah akal manusia. Moral berasal dari bahasa Latin mores yang berarti adat kebiasaan. Moral selalu dikaitkan dengan ajaran baik buruk yang diterima umum atau masyarakat. Karena itu adat istiadat masyarakat menjadi standar dalam menentukan baik dan buruknya suatu perbuatan. Akhlak berasal dari kata âkhuluqâ yang artinya perang atau tabiat. Dan dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata akhlak di artikan sebagai budi pekerti atau kelakuan. Inilah yang menjadi misi diutusnya Rasul sebagaimana disabdakannya â Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.âHadits riwayat Ahmad. Apabila aqidah telah mendorong pelaksanaan syariâat akan lahir akhlak yang baik, atau dengan kata lain akhlak merupakan perilaku yang tampak apabila syariâat Islam telah dilaksanakan berdasarkan aqidah. a Sabar, yaitu prilaku seseorang terhadap dirinya sendiri sebagai hasil dari pengendalian nafsu dan penerimaan terhadap apa yang diungkapkan ketika melaksanakan perintah, menjauhi larangan dan ketika ditimpa musibah. b Syukur, yaitu sikap berterima kasih atas pemberian nikmat Allah yang tidak bisa terhitung banyaknya. c Tawaduk, yaitu rendah hati, selalu menghargai siapa saja yang dihadapinya, orang tua, muda, kaya atau miskin. Berbuat baik kepada ibu bapak dibuktikan dalam bentuk-bentuk perbuatan antara lain menyayangi dan mencintai ibu bapak sebagai bentuk terima kasih dengan cara bertutur kata sopan dan lemah lembut, mentaati perintah, meringankan beban, serta menyantuni mereka jika sudah tua dan tidak mampu lagi berusaha. Melalui komunikasi seperti itu pula dilakukan pendidikan dalam keluarga, yaitu menanamkan nilai-nilai moral kepada anak-anak sebagai landasan bagi pendidikan yang akan mereka terima pada masa-masa selanjutnya. Etika adalah suatu ajaran yang berbicara tentang baik dan buruknya yang menjadi ukuran baik buruknya atau dengan istilah lain ajaran tenatang kebaikan dan keburukan, yang menyangkut peri kehidupan manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Dalam kamus umum bahasa Indonesia, etika diartikan ilmu pengetahuan tentang azaz-azaz akhlak moral. Dari pengertian kebahasaan ini terlihat bahwa etika berhubungan dengan upaya menentukan tingkah laku manusia. Sebagai cabang pemikiran filsafat, etika bisa dibedakan manjadi dua obyektivisme dan subyektivisme. Suatu tindakan disebut baik, kata faham ini, bukan karena kita senang melakukannya, atau karena sejalan dengan kehendak masyarakat, melainkan semata keputusan rasionalisme universal yang mendesak kita untuk berbuat begitu. Berpandangan bahwa suatu tindakan disebut baik manakala sejalan dengan kehendak atau pertimbangan subyek tertentu. Sementa etika sendiri menegaskan bahwa suatu perbuatan boleh atau tidak. Dengan kata lain etika adalah aturan atau pola tingkah laku yang dihasilkan oleh akal manusia. Dengan etika seseorang atau kelompok dapat menegemukakan penilaian tentang perilaku manusia Etika dapat memberikan prospek untuk mengatasi kesulitan moral yang kita hadapi sekarang. Etika dapat menjadi prinsip yang mendasar bagi mahasiswa dalam menjalankan aktivitas kemahasiswaanya. a Hormati perasaan orang lain, tidak mencoba menghina atau menilai mereka cacat. â Jangan anda membebani tamu untuk membantumu, karena hal ini bertentangan dengan kewibawaan. â Jangan kamu menampakkan kejemuan terhadap tamumu, tetapi tampakkanlah kegembiraan dengan kahadirannya, bermuka manis dan berbicara ramah. â Hendaklah segera menghidangkan makanan untuk tamu, karena yang demikian itu berarti menghormatinya. â Jangan tidak hadir sekalipun karena sedang berpuasa, tetapi hadirlah pada waktunya. â Hendaknya pulang dengan hati lapang dan memaafkan kekurang apa saja yang terjadi pada tuan rumah. a. Berjalan dengan sikap wajar dan tawadlu, tidak berlagak sombong di saat berjalan atau mengangkat kepala karena sombong atau mengalihkan wajah dari orang lain karena takabbur. c. Disunnahkan bagi kedua mempelai melakukan shalat dua raka`at bersama, karena hal tersebut dinukil dari kaum salaf. â Mendo`akan semoga cepat sembuh, dibelaskasihi Allah, selamat dan disehatkan. Di dalam kamus umum bahasa Indonesia dikatan bahwa moral adalah pennetuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan. Selanjutnya moral dalam arti istilah adalah suatu istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik atau buruk. Berdasarkan kutipan tersebut diatas, dapat dipahami bahwa moral adalah istilah yang digunakan untuk memberikan batasan terhadap aktifitas manusia dengan nilai ketentuan baik atau buruk, benar atau salah. Jika pengertian etika dan moral tersebut dihubungkan satu dengan lainnya, kita dapat mengetakan bahwa antara etika dan moral memiki objek yang sama, yaitu sama-sama membahas tentang perbuatan manusia selanjutnya ditentukan posisinya apakah baik atau buruk. Namun demikian dalam beberapa hal antara etika dan moral memiliki perbedaan. Pertama, kalau dalam pembicaraan etika, untuk menentukan nilai perbuatan manusia baik atau buruk menggunakan tolak ukur akal pikiran atau rasio, sedangkan moral tolak ukurnya yang digunakan adalah norma-norma yang tumbuh dan berkembang dan berlangsung di masyarakat. Etika dan moral sama artinya tetapi dalam pemakaian sehari-hari ada sedikit perbedaan. Kesadaran moral erta pula hubungannya dengan hati nurani yang dalam bahasa asing disebut conscience, conscientia, gewissen, geweten, dan bahasa arab disebut dengan qalb, fuâad. Berdasarkan pada uraian diatas, dapat sampai pada suatu kesimpulan, bahwa moral lebih mengacu kepada suatu nilai atau system hidup yang dilaksanakan atau diberlakukan oleh masyarakat. Nilai atau sitem hidup tersebut diyakini oleh masyarakat sebagai yang akan memberikan harapan munculnya kebahagiaan dan ketentraman. Nilai-nilai tersebut ada yang berkaitan dengan perasaan wajib, rasional, berlaku umum dan kebebasan. Jika nilai-nilai tersebut telah mendarah daging dalam diri seseorang, maka akan membentuk kesadaran moralnya sendiri. Orang yang demikian akan dengan mudah dapat melakukan suatu perbuatan tanpa harus ada dorongan atau paksaan dari luar. Dari sudut kebahasaan, akhlak berasal dari bahasa arab, yaitu isim mashdar bentuk infinitive dari kata al-akhlaqa, yukhliqu, ikhlaqan, sesuai timbangan wazan tsulasi majid afâala, yufâilu ifâalan yang berarti al-sajiyah perangai, at-thobiâah kelakuan, tabiat, watak dasar, al-adat kebiasaan, kelaziman, al-maruâah peradaban yang baik dan al-din agama. Namun akar kata akhlak dari akhlaqa sebagai mana tersebut diatas tampaknya kurang pas, sebab isim masdar dari kata akhlaqa bukan akhlak, tetapi ikhlak. Untuk menjelaskan pengertian akhlak dari segi istilah, kita dapat merujuk kepada berbagai pendapat para pakar di bidang ini. § Sabar, yaitu prilaku seseorang terhadap dirinya sendiri sebagai hasil daripengendalian nafsu dan penerimaan terhadap apa yang diungkapkan ketika melaksanakan perintah, menjauhi larangan dan ketika ditimpa musibah. § Syukur, yaitu sikap berterima kasih atas pemberian nikmat Allah yang tidak bisa terhitung banyaknya. § Tawaduk, yaitu rendah hati, selalu menghargai siapa saja yang dihadapinya, orang tua, muda, kaya atau miskin. Berbuat baik kepada ibu bapak dibuktikan dalam bentuk-bentuk perbuatan antara lain Menyantuni mereka jika sudah tua dan tidak mampu lagi berusaha. Lawan kata husnuzan adalah suuzan yakni berprasangka buruk terhadap seseorang . â Meyakini dengan sepenuh hati bahwa semua perintah Allah dan Rasul Nya Adalah untuk kebaikan manusia. â Meyakini dengan sepenuh hati bahwa semua larangan agama pasti berakibat buruk. Husnuzan kepada sesama manusia berarti menaruh kepercayaan bahwa dia telah berbuat suatu kebaikan. Taâawun berarti tolong menolong, gotong royong, bantu membantu dengan sesama manusia. Iri berarti merasa kurang senang atau cemburu melihat orang lain beruntung.. Dendam yaitu keinginan keras yang terkandung dalam hati untuk membalas kejahatan. seseorang yang belum tentu benar kepada orang lain dengan maksud Istilah moral biasanya dipergunakan untuk menentukan batas-batas suatu perbuatan, kelakuan, sifat dan perangkai dinyatakan benar, salah, baik, buruk,layak atau tidak layak,patut maupun tidak patut. â Sinaga, Hasanudin dan Zaharuddin, Pengatar Studi Akhlak, Jakarta PT Raja Grafmdo Persada, 2004 Bandung CV Diponegoro, 1988 artikel ini disadur dari persentasi pada mata kuliah akhlak tasawuf Memahami Perbedaan Akhlak, Etika, dan Moral Sebagaimana diterangkan dalam buku âAkhlak Tasawufâ yang disusun oleh Prof. Dr. Rosihon Anwar, M. Ag. Pertama bahwasanya ketiganya mengacu pada gambaran tentang perbuatan, tingkah laku, dan perangai yang baik. Kedua, merupakan prinsip atau aturan hidup manusia untuk mengukur martabat dan harkat kemanusiaannya. Psikologi membicarakan tentang perasaan, sifat, kehendak, pemahaman, khayal, kemerdekaan, yang keseluruhan dibutuhkan oleh ilmu akhlak. Antara Etika, Moral dan Akhlak Mana yang Lebih Utama dalam Islam Secara bahasa bentuk jamak dari akhlak adalah khuluq, yang memiliki arti tingkah laku, perangai dan tabiat. Untuk menjelaskan pengertian akhlak dari segi istilah, kita dapat merujuk kepada berbagai pendapat para pakar di bidang ini. Selanjutnya moral dalam arti istilah adalah suatu istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik atau buruk. Jika pengertian etika dan moral tersebut dihubungkan satu dengan lainnya, kita dapat mengetakan bahwa antara etika dan moral memiki objek yang sama, yaitu sama-sama membahas tentang perbuatan manusia selanjutnya ditentukan posisinya apakah baik atau buruk. Sebuah tatanan perilaku berdasarkan suatu sistem tata nilai suatu masyarakat tertentu, etika lebih banyak dikaitkan dengan ilmu atau filsafat, karena itu yang menjadi standar baik dan buruk adalah akal manusia. Berikutnya, dalam encyclopedia Britanica, etika dinyatakan sebagai filsafat moral, yaitu studi yang sitematik mengenai sifat dasar dari konsep-konsep nilai baik, buruk, harus, benar, salah, dan sebagainya. Pertama, dilihat dari segi objek pembahasannya, etika berupaya membahas perbuatan yang dilakukan oleh manusia. Kedua dilihat dari segi sumbernya, etika bersumber pada akal pikiran atau filsafat. Ketiga, dilihat dari segi fungsinya, etika berfungsi sebagai penilai, penentu dan penetap terhadap sesuatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia, yaitu apakah perbuatan tersebut akan dinilai baik, buruk, mulia, terhormat, hina dan sebagainya. Dengan demikian etika lebih berperan sebagai konseptor terhadap sejumlah perilaku yang dilaksanakan oleh manusia. Keempat, dilihat dari segi sifatnya, etika bersifat relative yakni dapat berubah-ubah sesuai dengan tuntutan zaman. Dengan kata lain etika adalah aturan atau pola tingkah laku yang dihasulkan oleh akal manusia. . Ketiga istilah etika, moral dan akhlak sudah tidak asing lagi di telinga khalayak umum. Oleh karena itu, pada artikel kali ini kita akan membahas tentang persamaan dan perbedaan diantara ketiga istilah tersebut. Pada dasarnya moral dan etika merupakan dua istilah yang benar-benar kembar indentik, karena keduanya sama-sama muncul dari hasil pemikiran manusianya.
MAKALAH AKHLAK TASAWUF Perbedaan Dan Persamaan Antara Akhlaq Dan Ilmu Tasawuf Dosen Pembimbing Salman Faris, Penyusun Rifatul Mustafidah Sekolah Tinggi Islam Az=Ziyadah STAIZA KATA PENGANTAR Alhamdulillahi Rabbilâalamin, marilah kita panjatkan puji syukur atas ke hadirat Allah Subhanahu Wataâala dimana kita masih diberikan nikmat kesehatan, kesempatan serta hidayah dan taufik, suatu nikmat yang begitu banyak dan besar sehingga makalah ini dapat kami selesaikan. Shalawat serta salam tak lupa pula kita kirimkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, sahabat serta keluarganya sebab jasa beliaulah yang membawa umat manusia ke jalan yang diridhai Allah SWT. Penulis menyadari bahwa makalah Akhlak Tasawuf ini masih banyak terdapat kekurangan dari segala aspek oleh karena itu, kami sangat membutuhkan masukan dan arahan agar sekiranya kami dapat membenahinya dalam penulisan selanjutnya, dan kami mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak yang telah memberikan sumbangsi pemikirannya, semoga Allah Subhanahu Wataâala memberkahi kita semua, amiin. Jakarta,13 November 2014 Penyusun BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Akhlaq Tasawwuf merupakan salah satu khazanah intelektual Muslim yang kehadirannya hingga saat ini semakin dirasakan, secara historis dengan teologis akhlak tasawwuf tampil mengawal dan memandu perjalanan hidup umat agar selamat dunia dan akhirat. Tidaklah berlebihan jika misi utama kerasulan Muhammad SAW. Adalah untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia, dan sejarah mencatat bahwa faktor pendukung keberhasilan dakwah beliau itu antara lain karena dukungan akhlaknya yang pemikiran dan pandangan di bidang akhlaq dan tasawwuf itu kemudian menemukan momentum pengembangan dalam sejarah, antara lain ditandai oleh munculnya sejumlah besar ulama tasawwuf dan ulama di bidang akhlaq. Di tambah lagi dengan problematika pada zaman sekarang ini yang sudah tercemar dengan budaya barat sehingga menimbulkan perilaku kebarat-baratan seperti pacaran, ciuman di tempat umum, narkoba dan lain sebagainya. Sudah sangat minim seseorang yang memiliki rasa malu yang tinggi untuk melakukan sebuah maksiat, bahkan terkadang sampai lupa akan karena itu Ilmu Akhlaq Tasawuf sangat penting untuk dipelajari. Disadari bahwa masih banyak bidang akhlaq tasawwuf yang dapat dikemukakan, namun keterbatasan ilmu yang kami miliki kami mohon maaf jika mempunyai kesalahan dalam pengumpulan data yang kami kumpulkan ini. B. Identifikasi Masalah Beberapa masalah yang berkaitan dengan judul makalah ini adalah sebagai berikut 1. Apa pengertian Akhlaq dan Ilmu Tasawuf ? 2. Apa persamaan dan perbedaan antara Akhlaq dan Ilmu Tasawuf ? C. Tujuan Penulisan Makalah Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diuraikan diatas maka penulis mencoba merumuskan masalah sebagai berikut 1. Untuk mengetahui pengertian Akhlaq dan Tasawuf 2. Untuk mengetahui perbedaan antara Akhlaq dan Ilmu Tasawuf 3. Untuk mengetahui persamaan antara Akhlaq dan Ilmu Tasawuf BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Akhlaq Kajian ini membedakan antara Akhlak dan Ilmu Akhlak, Akhlak diartikan sebagai tingkah laku manusia, sedangkan Ilmu Akhlak diartikan sebagai suatu teori yang mempelajari tingkah laku manusia, sehingga pengertiannyapun dibedakan dalam pembahasan ini. Kata âAkhlakâ berasal dari bahasa Arab yang sudah dijadikan bahasa Indonesia, yang diartikan juga sebagai â tingkah laku, perangai atau kesopanan â. Kata akhlaq merupakan jamaâ taksir dari kata khuluq, yang sering juga diartikan dengan sifat bawaan atau tabiat, adat kebiasaan dan agama.[1] Sedangkan definisinya dapat dilihat beberapa pendapat dari pakar ilmu akhlaq, antara lain 1. Al-Qurtubi Perbuatan yang bersumber dari diri manusia yang selalu dilakuakan, maka itulah yang disebut akhlaq, karena perbuatan tersebut bersumber dari kejadiannya.[2] 2. Muhammad bin Ilan al-Sadiqi Akhlaq adalah suatu pembawaan yang tertanam dalam diri, yang dapat mendorong seseorang berbuat baik dengan gampang.[3] 3. Ibnu Maskawih Akhlaq adalah kondisi jiwa yang selalu mendorong manusia berbuat sesuatu, tanpa ia memikirkan terlalu lama.[4] 4. Abu Bakar Jabir al-Jaziri Akhlaq adalah bentuk kejiwaan yang tertanam dalam diri manusia, yang dapat menimbulkan perbuatan baik dan buruk, terpuji dan tercela.[5] 5. Imam Al-Ghazali Akhlaq adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang dapat melahirkan suatu perbuatan yang gampang dilakukan, tanpa melalui maksud untuk memikirkan lebih lama maka jika sifat tersebut melahirkan suatu tindakan terpujimenurut ketentuan rasio dan norma agama, dinamakan akhlaq baik. Tapi manakala ia melahirkan tindakan buruk, maka dinamakan akhlaq buruk.[6] Dalam diri setiap manusia, terdapat potensi dasar yang dapat mewujudkan akhlak baik dan buruk, tetapi sebaliknya pada dirinya juga dilengkapi rasio pertimbangan pemikiran dan agama yang dapat menuntun perbuatannya, sehingga potensi keburukan dalam dirinya dapat ditekan, lalu potensi kebaikannya dapat dikembangkan. Oleh karena itu, manusia sejak lahir, harus diberi pendidikan, bimbingan dan pembiasaan yang baik,untuk merangsang perkembangan dan pertumbuhannya. Bahkan agama dan ilmu pendidikan memberikan konsep dan teori tentang perlunya ada proses pendidikan yang berlangsung, tatkala kedua orang tua baru mencari jodoh. Konsep manusia yang ideal dalam islam, adalah manusia yang kuat imannya dan kuat taqwanya. Ketika manusia memiliki kekuatan taqwa, iapun dapat memiliki kekuatan ibadah dan kekuatan akhlaq. Orang yang memiliki kekuatan iman disebut muâmin, orang yang memiliki kekuatan ibadah disebut muslim, dan orang yang memiliki kekuatan akhlaq disebut muhsin. Bila ketiga sifat ini menjadi kekuatan dalam diri setiap manusia, maka ia akan selamat dan bahagia di dunia dan di akhirat. Dan inilah yang menjadi tujuan hidup setiap manusia, sehingga ia selalu meminta doâa, sebagaimana yang disebutkan dalam al-Qurâan surah al-Baqarah ayat 251. B. Pengertian Ilmu Akhlaq Ada beberapa pakar yang mengemukakan definisi ilmu akhlaq, antara lain 1. Mansur Ali Rajab Ilmu tentang nilai-nilai yang baik, lalu mengetahui cara-cara mengikutinya, agar manusia dapat menggunakannya untuk berbuat baik. Dan Ilmu tentang nila-nilai yang buruk, lalu mengetahui cara-cara menjauhinya untuk membersihkan diri dari padanya.[7] 2. Ahmad Amin Ilmu Akhlaq adalah suatu ilmu yang membahas perbuatan manusia yang dapat dinilai baik atau buruk. [8] 3. Socrates 469 â 399 SM Socrates menguraikan etika dengan menerangkan, bahwa dalam diri setiap manusia ada potensi akal-pikiran yang berfungsi untuk membedakan antara hal-hal yang baik dengan hal-hal yang buruk. Kemudian juga ada potensi spiritual yang mendorong manusia untuk menunjukan hal-hal yang baik dan meninggalkan hal-hal yang buruk.[9] C. Manfaat Mempelajari Ilmu Akhlaq 1. Untuk memberikan pengetahuan kepada manusia tentang criteria baik dan buruk, lalu memberikan tuntunan tentang cara yang terbaik untuk melakukan perbuatan baik, serta cara yang baik untuk menjauhi perbuatan buruk. Inilah yang disebut ranah kognitif quwwatu al-ilmi 2. Untuk menanamkan sikap pada diri manusia, bahwa perbuatan baik dapat memperoleh kebaikan hidup, sedangkan perbuatan buruk dapat menyengsarakannya. Inilah yang dimaksud dengan ranah efektif quwwatu al-hali 3. Bersedia berbuat kebaikan, kapan dan dimana saja bila dibutuhkan. Dan bersedia menghindari perbuatan buruk, kapan dan dimana saja, untuk menjaga dan memelihara agamanya, masyarakatnya dan yang disebut dengan ranah psikomotorik quwwatu al-amal D. Pengertian Tasawuf a. Menurut Bahasa 1. Tasawuf berasal dari istilah yang dikonotasikan dengan ahlu suffah çĂâĄĂâ çĂâĂ”ÙĂÂĂ© , yang berarti sekelompok orang di masa Rasulullah yang hidupnya banyak berdiam di serambi-serambi masjid, dan mengabdikan hidupnya untuk beribadah kepada Allah. 2. Tasawuf berasal dari kata shafa Ă”ĂÂçĂÂĄ, yang berarti sebagai nama bagi orang-orang yang âbersihâ atau âsuciâ. Maksudnya adalah orang-orang yang mensucikan dirinya dihadapan Tuhannya. 3. Tasawuf berasal dari kata âsafâ. Makna âsafâ itu dinisbahkan kepada orang-orang yang ketika shalat berada di saf atau barisan terdepan. 4. Tasawuf dinisbahkan kepada orang-orang dari bani suffah. 5. Tasawuf dinisbahkan dengan kata atau bahasa Yunani, yaitu saufi Ă”ĂËĂÂĂâ°. Istilah ini disamakan maknanya dengan kata hikmah, yang berarti kebijaksanaan. 6. Tasawuf berasal dari kata saufanah yaitu sebangsa buah-buahan kecil berbulu yang banyak tumbuh di padang pasir tanah Arab. Pakaian kaum sufi berbulu seperti buah pula, dalam kesederhanaannya. 7. Tasawuf berasal dari kata suf Ă”ÙĂËÙĂÂÙĂâ° yang berarti bulu domba atau wol. Dari ketujuh definisi diatas, yang banyak diakui kedekatannya dengan pengertian tasawuf adalah definisi yang ketujuh, yaitu suf. Mereka yang cenderung memakai definisi yang ketujuh, antara lain Al-Kalabazi, Al-Syukhrawardi, dan Al-Qusyairi. Namun pada kenyataannya tidak setiap kaum sufi memakai pakaian wol. b. Menurut Istilah 1. Al Jauhari Tasawuf adalah, memasuki segala budi akhlaq yang bersifat sunni dan keluar dari budi pekerti yang rendah. 2. Al Junaidi Tasawuf adalah, bahwa yang haq adalah yang mematikanmu, dan haqlah yang menghidupkanmu. 3. Abu Hamzah Ia memberikan cirri terhadap ahli tasawuf sebagai berikut. Tanda sufi yang benar adalah berpikir setelah dia kaya, merendahkan diri setelah dia bermegah-megahan, menyembunyikan diri setelah ia terkenal, dan tanda sufi palsu adalah kaya setelah dia fakir, bermegah-megahan setelah dia hina dan tersohor setelah ia bersembunyi. 4. Amir bin Usman Al Makki Tasawuf adalah seorang hamba yang setiap waktunya mengambil waktu yang utama. 5. Ali al Qassab Tasawuf adalah akhlak yang mulia, yang timbul pada masa yang mulia, dari seseorang yang mulia ditengah-tengah kaum yang mulia. 6. Maâruf al-Karakhi Tasawuf adalah mengambil hakikat dan berputus asa pada apa yang ada ditangan makhluk. Para ulama tasawuf sendiri berbeda cara dalam mendefinisikan tasawuf. Diantara berbagai pendapat berikut diantaranya adalah 1. Asy-Syeikh Muhammad Amin Al-kurdy Beliau menakankan dalam definisinya suatu ilmu yang digunakan dalam mencapai tujuan tasawuf, yaitu 1. Ilmu Syariah; 2. Ilmu Thariqah; 3. Ilmu haqiqah; dan 4. Ilmu Maârifah; Asy-Syeikh Muhammad Amin Al-kurdy mengemukakan bahwa âTasawuf adalah suatu ilmu yang dengannya dapat diketahui hal ihwal kebaikan dan keburukan jiwa, cara membersihkannya dari sifat-sifat yang buruk dan mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji, cara melakukan suluk, melangkah menuju keridhaan Allah dan meninggalkan larangan-Nya menuju perintah-Nya.â 2. Imam Al-Gazali Imam Al-Gazali mengemukakan pendapat Abu Bakar Al-Katany yang mengatakan âTasawuf adalah budi pekerti, barang siapa yang memberikan bekal budi pekerti atasmu, berarti dia memberikan bekal atas dirimu dalam tasawuf, maka hamba yang jiwamya menerima perintah untuk beramal karena sesungguhnya mereka melakukan suluk dengan nur petunjuk islam. Dan ahli zuhud yang jiwanya menerima perintah untuk melakukan beberapa akhlaq terpuji karena mereka telah melakukan suluk dengan nur petunjuk imannya.â 3. Mahmud Amin An-Nawawy Beliau mengemukakan pendapat Al-Junaidi Al-Baghdady yang mengatakan âTasawuf adalah memelihara menggunakan waktu. Lalu ia berkata, seorang hamba tidak akan menekuni amalan tasawuf aturan tertentu , menganggap tidak tepat ibadahnya tanpa tertuju pada Tuhan-Nya dan merasa tidak berhubungan dengan Tuhan-Nya tanpa menggunakan waktu untuk beribadah kepada-Nya. 4. As Suhradawardy Beliau mengemukakan pendapat maâruf Al Karakhy yang mengatakan â Tasawuf adalah mencari hakikat dan meninggalkan sesuatu yang ada ditangan makhluk kesenangan duniawi.â 5. Abu Bakar al Katany Beliau menekankan bahwa akhlaq sebagai titik awal amalan tasawuf. Karena itu, bila seorang hendak mengamalkan ajaran tasawuf, ia harus terlebih dulu memperbaiki akhlaqnya. 6. Al-Junaidi Al-Baghdady Beliau menekankan bahwa menggunakan waktu dalam mengamalkan tasawuf penting artinya. Karena itu, seorang sufi selalu menggunakan mengingat kepada Allah SWT dengan berbagai macam ibadah sunat dan zikir. 7. Maâruf al-Kararky Beliau menekankan bahwa tasawuf adalh mencari kebenaran yang hakiki, dengan cara meninggalkan kesenangan duniawi. Dari beberapa definisi tersebut, dapat dikemukakan definisi lain bahwa tasawuf adalah melakukan ibadah kepada Allah dengan cara-cara yang telah dirintis oleh ulama sufi, yang disebutnya sebagai suluk. Suluk adalah untuk mencapai suatu tujuan, yaitu maârifat kepada alam yang ghaib, mendapatkan keridhoan Allah, serta kebahagiaan diakhirat. Dari pengertian tersebut dapat disederhanakan bahwa tasawuf adalah ilmu yang mempelajari usaha memperbaiki diri , berjuang memerangi nafsu, mencari jalan kesucian dengan makrifat menuju keabadian, saling mengingatkan manusia, serta berpegang teguh pada janji Allah dan mengikuti syariat Rasulullah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah dan mencapai keridhoaan-Nya. E. Hakekat Tasawuf Untuk mempermudah menerima pengertian tentang tasawuf ada baiknya bila disini mengemukakan perilaku hidup Rasulullah dan sahabat-sahabat beliau. Perilaku hidup dizaman Rasulullah dan dizaman khulafaurrasyiddin, pada umumnya seluruh perilaku hidup pada zaman itu disifati dan dipandangi dengan hiduo tasawuf. Tujuan hidup mereka tidak didasarkan kepada nilai-nilai materi yang dapat ditumpuk untuk memperkaya diri, tetapi pada nila-nilai ibadah, memandang akhirat lebih baik daripada kehidupan mereka sangat tawadhuâ bagaikan âpadi makin berisi semakin merundukâ. Adapun perilaku Nabi dan sahabatnya menurut sejarah maka dapat diperinci antara lain sebagai berikut Hidup zuhud anti keduniawian yang berlebih-lebihan Hidup Qanaah merasa cukup apa adanya Hidup Taat melakukan perintah Allah dan Rasulnya serta meninggalkan larangannya Hidup Istiqomah berkekalan/tetap beribadat Hidup mahabbah sangat cinta kepada Allah dan Rasulnya lebih dari mencintai dirinya sendiri. Hidup Ikhlas sedia menjadi penebus apa saja untuk Allah demi ketinggian âKalimatullahi Hial Ulyaâ Hidup Ubudiyah mengabdikan diri kepada Allah âSyahsiatus syufiah F. Tujuan Mempelajari Tasawuf Tujuannya adalah maârifatullah mengenal Allah secara mutlak dan lebih jelas . Tasawuf memiliki tujuan yang baik yaitu kebersihan diri dan taqarrub kepada Allah. Namun tasawuf tidak boleh melanggar apa-apa yang telah secara jelas diatur oleh al-Qurâan dan as-sunnah, baik dalam aqidah, pemahaman ataupun tata cara yang dilakukan. Melihat dari situ kita dapat memahami betapa pentingnya mengenal Allah secara lebih dalam dan memahaminya dengan benar. Sama juga dengan membersihkan diri dan taqarrub, tapi tidak boleh melanggar apapun yang telah Al-Qurâan berikan. G. Faedah dari Mempelajari Tasawuf Saat kita telah memahami tasawuf itu kita mulai dapat mana yang baik dan yang tidak. Bagi tasawuf mendidik hati dan maârifah Allah Yang Maha Mengetahui sepertimana kata Ibnu Ajibah buah hasilnya ialah kelapangan 9mulia nafsu, selamat dada dan akhlaq yang mulia bersama setiap makhluk. Faedah tasawuf adalah membersihkan hati agar sampai kepada maârifat akan kepada Allah Taâala sebagai maârifat yang sempurna untuk keselamatan di akhirat dan mendapat keridhaan Allah dan mendapatkan kebahagiaan abadi. H. Hubungan Akhlaq dengan Tasawuf Akhlaq dan tasawuf saling berkaitan. Akhlaq pada pelaksanaanya mengatur hubungan horizontal antara sesame manusia, sedangkan tasawuf mengatur jalinan komunikasi vertical antara manusia dengan Tuhannya. Akhlaq menjadi dasar dari pelaksanaan tasawuf, sehingga dalam prakteknya tasawuf mementingkan akhlaq. Para ahli tasawuf pada umumnya membagi tasawuf kepada tiga bagian 1. Tasawuf Amali 2. Tasawuf Falsafi 3. Tasawuf Akhlaqi Yang memiliki tujuan yang sama yaitu mendekatkan diri kepada Allah dengan cara membersihkan diri dari perbuatan yang tercela dan menghias diri dengan perbuatan yang terpuji. I. Perbedaan dan Persamaan antara Akhlaq dengan Ilmu Tasawuf 1. Persamaan Persamaan antara akhlaq dan tasawuf sesuai dengan firman Allah yaitu sebagai rahmat bagi seluruh alam, saling menyayangi dan tidak sombong, apa bila kita berakhlaq maka kita tidak akan sombong, para sufipun juga tidak sombong karena mereka tidak memikirkan duniawi. 2. Perbedaan Ilmu tasawuf adalah ilmu tentang bagaimana kita membersihkan hati agar selalu berdzikir/ingat kepada Allah, dan tidak tergiur oleh duniawi. Sedangkan akhlaq itu sendiri adalah refleksi dari penerapan ilmu tasawuf sehingga tingkah laku dan perbuatan kita sama dengan perilakunya Rasulullah SAW. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dari pembahasan diatas dapat diuraikan bahwa antara ilmu akhlaq dan tasawuf sangat erat kaitannya, oleh karena itu antara keduanya memiliki perbedaan yang sangat tipis, maka sering muncul pernyataan ulama tasawuf yang mengatakan ; bahwa upaya memperbaiki akhlaq merupakan awal perjalanan praktek tasawuf, sedangkan pemulaan praktek tasawuf menandakan akhir perjalanan akhlaq. Ini berarti bahwa orang-orang yang menekuni ajaran tasawuf, ia harus terlebih dahulu mematangkan akhlqnya, baru ia bisa memulai melaksanakan ajaran tasawufnya. Atau dengan kata lain, sebelum peserta tasawuf melakukan pelatihan kerohanian secara rutin dalam kegiatan tasawuf, ia harus lebih dahulu menyempurnakan akhlaqnya, antara lain mematangkan dan menyempurnakan peraktek mujahadah yaitu upaya menekan dan mematikan kecenderungan nafsunya, sehingga selalu terarah kepada kecenderungan berbuat baik. B. Saran Demikianlah tugas penyusunan makalah ini kami susun. Harapan kami dengan adanya tulisan ini bisa menjadikan kita untuk lebih menyadari bahwa agama islam memiliki khazanah keilmuan yang sangat dalam untuk mengembangkan potensi yang ada di alam ini dan merupakan langkah awal untuk membuka cakrawala keilmuan kita, agar kita menjadi seorang muslim yang bijak sekaligus intelek. Serta dengan harapan dapat bermanfaat dan bisa difahami oleh para pembaca. Kritik dan saran sangat kami harapkan dari para pembaca, khususnya dari dewan guru yang telah membimbing kami. Apabila ada kekurangan dalam penyusunan karya tulis ini, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. DAFTAR PUSTAKA Mahjuddin,H,Akhlak Tasawuf II, Jakarta Kalam Mulia,2010 Zahari, Mustafa, Kunci Memahami Ilmu Tasawuf, Surabaya Ilmu, 2007 Wahid, Ahhmad H, Akidah Akhlak MA Kelas XI, Bandung CV ARMICO,2010 Amin,Ahmad, Ibnu Akhlaq,Terjemahan oleh Farid Maâruf, Jakarta Bulan Bintang, 1983 Al-Ghazali, Ihya Ulumi al-Din,Juz III, Bayrut, Dar al-Fikr Ali Rajab, Mansur, Taammulat, Fi al-Falsafah al-Akhlaq, Qairo, al-Injiliwi al-Misriyyah,196 Al-Qurtubi, Tafsir Al-Qurtubi,Juz VIII,Qairo,Dar al-Syaâbi,1913 M Ilan al-Sadiqi, Muhammad bin, Dalil al-Falihin,Juz III, Mesir, Mustafa al-Babi al-Halabi,1391 H/1971 Yusuf Musa, Muhammad,Falsafah al-akhlaq Fi-al-Islam Wa-Silatuha Bi-alsafah al-Igriqiyyah, Qairo,Muassasah al-Khanji,1963 Jabir al-Jaziri, Abu Bakar, Minhaj al-Muslim, Madinah, Dar Umar bin Khattab,1396 H/1976 M [1] Tasawuf II, Jakarta,Kalam Mulia,2010 [2] Al-Qurtubi, Tafsir Al-Qurtubi,Juz VIII,Qairo,Dar al-Syaâbi,1913 M, [3] Muhammad bin Ilan al-Sadiqi, Dalil al-Falihin,Juz III, Mesir, Mustafa al-Babi al-Halabi,1391 H/1971, [4] Muhammad Yusuf Musa,Falsafah al-akhlaq Fi-al-Islam Wa-Silatuha Bi-alsafah al-Igriqiyyah, Qairo,Muassasah al-Khanji,1963 M, [5] Abu Bakar Jabir al-Jaziri, Minhaj al-Muslim, Madinah, Dar Umar bin Khattab,1396 H/1976 M , [6] Al-Ghazali, Ihya Ulumi al-Din,Juz III, Bayrut, Dar al-Fikr, [7] Mansur Ali Rajab, Taammulat, Fi al-Falsafah al-Akhlaq, Qairo, al-Injiliwi al-Misriyyah,1961 M [8] Ahmad Amin, Ibnu Akhlaq,Terjemahan oleh Farid Maâruf, Jakarta, Bulan Bintang, 1983 , [9] Dr. H. Mahjuddin Akhlak Tasawuf II,
ï»żMAKALAH AKHLAK, MORAL, ETIKA, DAN KESUSILAAN Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Akhlak dan Tasawuf Pengampu Komarudin, Di susun oleh Romi Alfariz 1501046036 Muhammad Naufal Afif 1501046069 PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG 2016 BAB I PENDAHULUAN Pemahaman yang salah, dapat membuat orang satu dengan orang yang lain menjadikan suatu masalah kecil menjadi masalah yang besar. Kita pasti sudah mengetahui dalam kehidupan sehari-hari. Pada makalah ini, kami berusaha menguraikan masalah serupa yaitu antara akhlak, etika, moral dan susila yang hingga saat ini masih ada kesan seolah-olah istilah akhlak sama dengan etika, moral dan susila. Selain itu dalam makalah ini perlu juga dilihat secara jelas hubungan antara keempat istilah tersebut. 2. Rumusan Masalah Apa pengertian dari akhlak, etika, moral dan susila ? Apa persamaan dan perbedaan dari akhlak, etika, moral dan susila ? Apa hubungan antara ke empatnya ? BAB II PEMBAHASAN a. Akhlak Secara bahasa, kata akhlak berasal dari bahasa arab jamaâ dari bentuk mufrodnya khulqun yang menurut logat diartikan budi pekerti. Sedangkan secara istilah akhlak adalah kehendak dan tindakan yang sudah menyatu dengan pribadi seseorang dalam kehidupannya sehingga sulit untuk dipisahkan. Karena kehendak dan tindakan itu sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan, maka seseorang dapat mewujudkan kehendak dan tindakannya itu dengan mudah, tidak memerlukan banyak pertimbangan dan pemikiran. Oleh karena itu, tidak salah apabila akhlak sering diterjemahkan dengan kepribadian lantaran kehendak dan tindakannya itu sudah menjadi bagian dari kepribadiannya. Sebagai salah satu contoh seseorang tidak bisa dikatakan sebagai berakhlak dermawan, apabila dalam menyerahkan hartanya hanya dimotivasi oleh kebutuhan yang mendadak bukan oleh keadaan yang sudah menancap dan melekat di dalam jiwanya. Demikian juga orang yang dalam melakukan perbuatan dengan terpaksa maka perbuatannya itu tidak bisa dikatakan sebagai akhlak. b. Etika Secara Bahasa, dalam kamus umum Bahasa Indonesia, etika diartikan ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak moral. Dari kebahasaan ini terlihat bahwa etika berhubungan dengan upaya menentukan tingkah laku. Sedangkan secara istilah, etika adalah suatu ilmu yang membahas perbuatan manusia yang bersumber dari pikiran atau filsafat sebagai penilai, penentu dan penetap yaitu apakah perbuatan tersebut dinilai baik, buruk, mulia, terhormat, hina dan sebagainya yang bersifat relatif yakni dapat berubah-ubah sesuai tuntunan zaman. Dengan demikian, etika lebih merupakan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan yang dilakukan manusia untuk dikatakan baik atau buruk. Berbagai pemikiran yang dikemukakan para filosof barat mengenai perbuatan yang baik atau buruk dapat dikelompokan kepada pemikiran etika, karena berasal dari hasil berpikir. Dengan demikian etika sifatnya humanistis dan anthropocentris, yakni berdasar pada pemikiran manusia dan diarahkan pada manusia. Dengan kata lain etika adalah aturan atau pola tingkah laku yang dihasilkan oleh akal manusia. Sebagai Contoh ketika masuk kerumah orang lain, harus mengetuk pintu rumah dan memberikan salam. c. Moral Dari segi bahasa, moral berasal dari bahasa latin, mores yaitu jamak dari kata mos yang berarti adat kebiasaan. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, moral adalah penentuan baik-buruk terhadap perbuatan dan kelakuan. Menurut istilah, moral adalah suatu istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik atau buruk. Sebagai contoh dari moral adalah kalau kita menemukan tas yang berisikan dokumen penting dan juga sejumlah uang yang terdapat dalam tas tersebut. Seandainya kita memiliki moral yang baik maka kita akan memberikan tas itu kepada pemiliknya atau kalau tidak pada yang berwajib. d. Susila Susila atau kesusilaan berasal dari kata susila yang mendapat awalan ke dan akhiran an. Kata tersebut berasal dari bahasa sansekerta , yaitu su dan sila. Su berarti baik, bagus dan sila berarti dasar, prinsip, peraturan hidup atau norma. Kata susila selanjutnya digunakan untuk arti sebagai aturan hidup yang lebih baik. Orang yang susila adalah orang yang berkelakuan baik, sedangkan orang yang asusila adalah orang yang berlakuan buruk, contohnya para pelaku zina pelacur sering diberi gelar sebagai tuna asusila. Selanjutnya kata susila dapat berarti sopan, beradab, baik budi bahasanya. Dan kesusilaan sama dengan kesopanan. Dengan demikian kesusilaan lebih mengacu kepada upaya membimbing, memandu, mengarahkan, membiasakan dan memasyarakatkan hidup yang berlaku dalam masyarakat. Kesusilaan menggambarkaan keadaan dimana orang selalu menerapkaan nilai-nilai yang di pandang baik. Setelah mengetahui beberapa Pengertian antara Akhlak, Etika, Moral dan Susila dapat kita tarik persamaan dan perbedaan yaitu Persamaan Perbedaan Akhlak Akhlak sebagai objek yang dikaji Sumber dari Al Qurâan & Hadits Etika Menentukan hukum/ nilai perbuatan manusia dengan keputusan baik atau buruk. Mengkaji Tentang Akhlak Prinsip atau aturan hidup manusia Akal pikiran sebagai pertimbangan Bersifat teoritis Umum Menyatakan Ukuran Moral Bersifat praktis Adat kebiasaan umum masyarakat sebagai pertimbangan Menjelaskan Ukuran Alat penjaga dharma ajaran agama Susila 2. Hubungan Antara Akhlak, Etika, Moral dan Susila Dilihat dari fungsi perannya, dapat dikatakan bahwa akhlak , etika, moral, dan susila sama, yaitu menentukan hukum atau nilai dari suatu perbuatan yang dilakukan manusia untuk ditentukan baik buruknya. Kesemua istilah tersebut sama-sama menghendaki terciptanya keadaan masyarakat yang baik, teratur, aman, damai dan tentram sehingga sejahtera batiniah dan lahiriyah. Perbedaan antara etika, moral dan susila dengan akhlak adalah terletak pada sumber yang dijadikan patokan untuk menentukan baik dan buruk. Jika dalam etika penilaian baik buruk berdasarkan pendapat akal pikiran, dan pada moral dan susila berdasarkan kebiasaan yang berlaku umum dimasyarakat, maka pada akhlak ukuran yang digunakan untuk menentukan baik dan buruk itu aadalah Al Quran dan Al Hadits. Perbedaan lain antara etika, moral dan susila terlihat pada sifat dan kawasan pembahasannya, Jika etika lebih banyak pada sifat dan kawasan pembahasanya. Jika etika lebih banyak bersifat teoritis, maka pada moral dan susila lebih banyak bersifat praktis. Etika memandang tingkah laku manusia secara umum, sedangkan moral dan susila bersifat lokal atau idividual. Etika menjelaskan baik buruknya, sedangkan moral dan susila menyatakan ukuran tersebut dalam bentuk perbuatan. Namun demikian etika, moral, susila dan akhlak tetap saling berhubungan dan membutuhkan. Uraian tersebut diatas menunjukan dengan jelas bahwa etika, moral dan susila berasal dari produk rasi dan budaya masyarakat yang scara selektif diakui sebagai yang bermanfaat dan baik bagi kelangsungan hidup manusia. Sementara akhlak berasal dari wahyu, yakni ketentuan yang berdasarkan Al Quran dan Hadits. Dengan kata lain jika etika, moral dan susila berasal dari manusia, sedangkan akhlak berasal dari Tuhan. BAB III PENUTUP Berdasarkan uraian makalah di atas kita dapat sampai pada kesimpulan bahwa antara akhlak islam yang bersumber pada wahyu dapat menerima atau mengakui peranan yang dimainkan oleh etika, moral dan susila, yaitu sebagai sarana atau partner untuk menjabarkan akhlak islam yang terdapat dalam Al Quran dan Hadits, sepanjang etika, moral dan susila itu sejalan dengan Al Qurâan dan Hadits tersebut. Demikian makalah yang dapat kami susun, apabila masih banyak kesalahan dan kekurangan dalam penulisan maupun penyampaian saran yang membangun sangat kami harapkan guna memperbaiki makalah selanjutnya. DAFTAR PUSTAKA Nata, Dr. H. RAJAGRAFINDO PERSADA Nasiruddin, Media Group Drs. Zahruddin AR, M, Studi Raja Grafindo Persada